Misteri Rumah' Terbakar
Oleh Riza Al Gifari
Semenjak ayahnya meninggal, Alifia terpaksa tinggal kampung halaman ibunya, Maryati, di Desa Cipondok. Tentu saja, sekolahnyapun harus pindah. Dia masuk di kelas VII F SMP Cipondok.
Suatu ketika Ibu Khadijah, wali kelasnya, mengumumkan akan mengadakan study tour untuk mengisi liburan panjang. Semua siswa wajib ikut. Yang tidak bisa ikut akan diberi sangsi, menyusun makalah, membuat kliping, atau sangsi lainnya. Semua siswa segera mendaftar, kecuali Alifia dan ketiga temannya, Ani, Euis dan Endang. Mereka termasuk siswi tidak mampu di kelas ini.
Bel pulang berbunyi. Semua siswa keluar. Alifia pulangnya belakangan karena harus menyelesaikan tugas piket di kelasnya. Setelah semuanya beres diapun lalu pulang.
Alipia benar-benar merasa sedih. Sepanjang jalan diapun terus melamun. “Andai saja ayah masih hidup. Pasti aku bisa ikut study tour seperti teman-temanku yang lain,” begitulah dalam benak Alipia saat itu. Tapi apalah daya. Sekarang Alifia benar-benar hidup susah. Jangankan untuk ongkos berlibur. Untuk makan sehari-hari saja kadang-kadang sulit.
Karena berjalan sambil melamun, tak terasa jarak ke rumahnya tinggal dua belokan lagi. Saat melewati sebuah rumah besar yang tinggal puing-puing bekas kebakaran, tak sengaja kakinya menginjak sebuah bungkusan hingga dia hampir terjatuh.
Alifia kaget, penasaran. Lalu mengambil bungkusan itu, dan membukanya. Ternyata sebuah boneka perempuan yang sangat lucu. Alifia tertarik, lalu memasukan boneka itu ke dalam tasnya.
Sesampainya di rumah, Maryati, ibunya, langsung menyuruhnya makan. Tapi Alipia hanya bilang nanti saja. Dia langsung masuk ke dalam kamar, dan mengunci pintunya. Maryarti faham, pasti anaknya sedang punya masalah. Tapi dia tidak berani menegurnya.
Di dalam kamar, Alifia langsung merebahkan diri ke ranjang. Dia terus melamun, merenungi nasibnya yang selalu susah. Tiba-tiba dia teringat pada boneka, lalu membuka tas dan mengambilnya. Di lihat-lihatnya boneka itu. Ternyata benar-benar cantik, dan sepertinya harganya juga mahal. Yang punyanya pasti orang kaya.
Sambil mengusap-usap rambut boneka, Alifia mengadukan nasibnya. “Andai saja aku punya uang banyak. Tentu aku tidak akan merasa sedih seperti ini,” kata Alifia sambil terus memandangi boneka yang sedang dipegangnya.
Beberapa lama kemudian, pintu kamarnya diketuk. Saat dibuka ternyata ibunya membawa sebuah amplop. Katanya, ada yang mengirim amplop ini buat Alifia. Tapi tidak tertera siapa pengirimnya. Alipia dan ibunya segera membuka amplop itu, ternyata isinya uang yang lumayan banyak. Alipia dan ibunya heran. Bahkan Alipia sempat merasa takut. Alipia enggan menggunakan uang itu. Tapi kata ibunya, itu adalah rijki dari Allah yang tidak diduga-duga. Pakai saja kebutuhanmu. Insya Allah tidak akan terjadi apa-apa. Alipia lalu menyimpan uang ke dalam lemari. Sementara ibunya keluar lagi dari kamar.
Alipia terus merenung memikirkan kejadian. Siapa orang yang ngasih uang sebanyak itu. Akhirnya dia teringat, kalau barusan mengeluh sama boneka. Jangan-jangan boneka ini boneka ajaib. Alipia lalu mengambil lagi boneka yang sebelumnya sudah dia simpan di atas meja. Sambil memegang boneka, Alipia meminta sesuatu. Misalnya saja minta kueh atau apa saja.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara pintu rumahnya diketuk. Alipia segera membuka pintu. Ternyata tukang pos membawa paket kiriman. Saat dibuka isinya kueh. Alipia kaget. Dia semakin yakin kalau boneka itu benar-benar boneka ajaib.
Alipia mau bercerita kepada ibunya. Tapi dia mengurungkan lagi niatnya. Ibunya tidak pernah percaya pada takhyul. Pastinya tidak mungkin menanggapi ceritanya. Bahkan bisa-bisa Alipia malah dimarahi. Akhirnya Alipia terpaksa memilih untuk tutup mulut.
Malamnya, Alipia bermimpi. Terjadi sebuah perampokan kejam di sebuah rumah mewah. Pemilik rumah, suami istri dibunuh. Rumahnya kemudian dibakar. Untungnya salah seorang pembantu berhasil kabur dan menyelamatkan bocah perempuan, salah satu anak dari pemilik rumah itu. Dalam kejadian itu, Alipia berada diantara mereka. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi anehnya, kobaran api tidak bisa menyentuhnya.
Alipia bangun dari tidurnya. Mimpi itu benar-benar terasa nyata. Gadis ini tampak ketakutan. Apa arti dari mimpi itu. Alipia turun dari ranjang mau menemui ibunya. Tapi dia berhenti lagi. “Percuma saja ibu tidak akan percaya semua ini. Aku tidak akan mendapat jawaban darinya,” Alipia lalu berwudu dan shalat. Sampai pagi dia tidak bisa tidur lagi.
Paginya Alipia kembali berangkat sekolah. Dia lewat lagi ke rumah besar yang tinggal puing-puing, dimana kemarin dirinya menemukan boneka. Alipia berhenti sejenak, melihat keadaan rumah itu. Kok seperti yang ada di dalam mimpinya tadi malam. Alipia benar-benar heran, dan terus termenung. Tak terasa waktu sudah semakin siang. Dia lalu bergegas ke sekolah. Rasa heran terus menghantui fikirannya.
Di kelas, Alipia bercerita kepada Euis, Endang, dan Ani, tentang semua kejadian aneh yang dialaminya, mulai dari menemukan boneka, mendapat kiriman, mimpi seramnya tadi malam, sampai saat dia melihat puing-puing rumah yang keadaannya persis seperti yang di dalam mimpinya.
Ani, Endang dan Euis kaget. Bahkan Ani menyarankan agar Alipia mengembalikan lagi boneka ke tempatnya semula. Rumah itu sangat dikenal angker. Jarang orang yang berani lewat ke tempat itu, karena pasti akan mengalami kejadian aneh. Pernah ada beberapa orang yang nekad masuk untuk mencari barang rongsokan, tidak bisa keluar lagi. Adapun yang bisa keluar setelah beberapa hari, langsung gila.
Alipia penasaran. Kenapa bisa sampai begitu? Ani menjawab, bahwa ayahnya pernah bercerita. Dulu penghuni rumah itu adalah orang yang paling kaya di kampung ini. Mereka adalah warga pendatang. Namanya Pak Firuz, dan Istrinya, Bu Hapsah. Mereka punya seorang anak perempuan kecil bernama Nabila. Nabila selalu diasuh oleh pembantunya bernama Bi Puri.
Suatu malam terjadi perampokan. Pak Pairuz dan Bu Hapsah dibunuh. Rumahnya dibakar. Untungnya Bi Puri berhasil menyelamatkan Nabila dan membawanya kabur. Tapi anehnya, mayat bu Hapsah tidak ditemukan saat warga mau menguburkannya.
Alipia makin merasa heran. Kenapa kisah yang diceritakan Ani sama persis dengan apa yang dialaminya dalam mimpi. Hanya bagian akhirnya saja yang tidak dia ketahui, karena keburu bangun dari tidurnya. Alipia lalu bertanya, kemana Nabila dan bi Puri sekarang? Jawab Ani, tak seorangpun yang tahu dimana keberadaan mereka sekarang.
Sepulang dari sekolah, Alipia masih terus memikirkan peristiwa yang dialaminya. Ibunya heran. Tapi Alipia tidak mau terus terang. Alipia masuk kamar, lalu mengambil boneka. Dalam benaknya terus muncul banyak pertanyaan. Apakah benar boneka ini berasal dari alam gaib? Tapi, sebagian hati Alipia tetap tidak percaya. Tidak mungkin ada hubungan antara arwah yang sudah meninggal dengan manusia yang masih hidup. Tiba-tiba Alipia teringat pada omongan Ani agar mengembalikan lagi boneka ke tempatnya. Alipia lalu diam-diam keluar rumah untuk mengembalikan boneka.
Alipia sampai di tempat dimana dia menemukan boneka. Tidak seperti sebelumnya, entah kenapa kali ini dia merasakan adanya aroma takut dalam dirinya. Bulu kuduknya terasa merinding. Dengan sangat hati-hati dia menaruh boneka di tempatnya semula.
Alipia mau buru-buru pergi karena dia semakin merasakan adanya hawa aneh. Tapi tiba-tiba ada suara perempuan yang memanggilnya dari belakang. Alipia takut campur penasaran. Dia lalu menengok. Ternyata seorang ibu, berwajah cantik, berpakaian mewah tengah berdiri di dekat pintu rumah kosong. (Puing-puing terbakar). Alipia benar-benar ketakutan. Mau kabur, tapi kakinya terasa lemas. Bahkan saking takutnya diap un jatuh pingsan.
Alipia akhirnya sadar dari pingsannya. Alangkah kagetnya dia karena ternyata berada di sebuah kamar yang sangat rapih dan indah, banyak hiasan dindingnya seperti di dalam rumah mewah. Alipia mau bangun. Tapi tiba-tiba si ibu yang tadi muncul lagi. “Jangan bergerak dulu, nak. Kamu baru sadar dari pingsan.” Kata si Ibu sambil menyodorkan segelas air. Tapi Alipia kembali ketakutan. Si Ibu mengerti. Dia bilang agar Alipia jangan takut, karena dia tidak punya maksud jahat. Rasa takut Alipia mulai hilang. Akhirnya diapun mau minum yang disodorkan oleh si ibu tersebut.
Alipia penasaran. Siapa ibu ini sebenarnya. Si Ibu menjawab, kalau dirinya adalah Hapsah. Alipia kembali kaget, takut. Bukannya ibu sudah meninggal seperti yang dikatakan banyak orang? Si Ibu lalu tersenyum dan menjawab, itu hanya sangkaan mereka saja, nak. Untuk meyakinkan Alipia, Hapsah lalu bercerita.
Cerita alwalnya sama dengan yang di dalam mimpi Alipia juga cerita dari Ani, yakni tentang terjadinya perampokan di sebuah rumah. Tapi di akhir cerita, Hapsah bilang kalau dirinya berhasil menyematkan diri.
Alipia masih penasaran. “Tapi kenapa ibu tetap membiarkan gosip yang beredar di masyarakat, terutama tentang rumah ini yang berhantu? Sambil tersenyum Hapsah menjawab, bahwa dirinya sengaja membiarkan semua itu, untuk menjaga harta karun yang dikubur oleh suamianya di dalam rumah. Hanya harta itu yang bisa diwariskan kepada Nabila putri kesayangannya satu-satunya. Sayangnya, dia tidak tahu Nabila ada di mana. Alipia merasa kasihan. Dia berjanji akan membantu Bu Hapsah untuk mencari Nabila.
Alipia mau pulang, tapi masih punya pertanyaan yang belum terjawab, yakni tentang boneka. Jawab Bu Hapsah, Boneka itu adalah kesayangan Nabila. Dia tak sengaja menjatuhkannya di jalan. “Tapi kenapa boneka itu seperti ajaib, bisa mengabulkan apa saja yang diinginkan oleh saya, “ tanya Alipia lagi. Sambil tersenyum Hapsah menjawab lagi, Itu kebutulan saja. Alipia anak baik. Jadi Allah mudah memberinya rijiki. Alipia belum puas dengan jawaban itu. Tapi tidak ingin banyak bertanya. Akhirnya diapun pamit pulang. Bu Hapsah mempersilahkan, dan mengantarkannya sampai pintu.
Alipia sudah berada di jalan. Dia penasaran menengok ke rumah tadi. Ternyata rumah tadi kembali terlihat seperti puing-puing. Alipia benar-benar heran, tak mengerti dengan apa yang dialaminya.
Bersambung....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar